Selasa, 23 Juni 2009

Pantai Kejawanan- Aset Daerah yang Terabaikan

Kota Cirebon memiliki beberapa tempat wisata, yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai asset ekonomi. Namun pengelolaan yang kurang baik, membuat tempat-tempat wisata tersebut tidak dapat di andalkan. Sebut saja Keraton Kasepuhan dan Kanoman, Gua Sunyaragi, Taman Rekreasi Ade Irma Suryani dan Pantai Kejawanan.

Sebenarnya Pantai Kejawanan adalah tempat rekreasi baru di Kota Cirebon. Pantai ini dulunya hanyalah tempat pelelangan ikan, yang sepi dari pengunjung. Rumor yang mengatakan air laut pantai kejawanan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Membuat pantai ini semakin lama semakin ramai didatangi oleh pengunjung. Tentu saja sejumlah pedagang turut datang kepantai ini untuk mengais rejeki.

Beberapa bulan yang lalu Pemerintah Kota Cirebon pernah mengatakan, akan mengelola Pantai Kejawanan, sebagai salah satu tempat kunjungan wisata yang mampu meningkatkan pendapatan daerah. Namun setelah beberapa lama ditunggu, pantai kejawanan memang sudah berubah wujud. Yang dulunya adalah pantai yang sepi, sekarang menjadi pantai yang dipenuhi oleh pengunjung dan di padati oleh pedagang. Dengan kondisi ini, dari jauh pemandangan di Pantai Kejawanan kuranglah menarik, karena landscapenya tertutupi oleh kios-kios yang berdiri berjajar di sepanjang pantai. Ditambah lagi sebuah rumah makan besar yang berdiri melintang menutupi hampir setengah pandangan ke pantai. Memang rumah nakan ini telah berdiri lama sebelum pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Memasuki Pantai Kejawanan seperti memasuki pasar tumpah dengan latar belakang laut. Kita harus menelusuri jalan sempit diantara warung-warung tenda yang berdiri. Jika laut dalam kondisi pasang, jalan sempit tesebut sangatlah becek, karena kondisi Pantai Kejawanan adalah pasir bercampur dengan lumpur.

Setelah melewati warung-warung tenda tersebut, kita tidak akan menemukan lagi hamparan pasir yang dapat dijadikan tempat bermain. Karena hampir semua pasir di pantai ini dipenuhi oleh pedagang, sehingga tidak ada lagi ruangan bagi pengunjung untuk bermain-main di pasir seperti dulu lagi. Memang pasir di pantai ini bukanlah pasir putih. Tetapi pantai tanpa pasir untuk dijadikan tempat bermain, bukanlah tempat yang nyaman untuk rekreasi.

Dari kondisi tersebut, terlihat bahwa pemerintah kota tidak optimal dalam mengelola asset wisatanya. Jika saja pemerintah melakukannya secara optimal, bukan hanya pengunjung yang dapat kepuasan, karena menikmati keindahan pantai kejawanan, tetapi para pedagang juga akan memperoleh keuntungan yang maksimal. Hal serupa juga terjadi pada pengelolaan tempat wisata lainnya yang ada di Kota Cirebon.

Ada tanggapan dari beberapa masyarakat, perlu swastanisasi asset-aset wisata tersebut agar dapat dikelola secara professional dan mendapatkan hasil yang optimal. Jika syaratnya harus dikelola secara professional, apakah pemerintah kota tidak mampu mengelola asset-aset tersebut secara professional sehingga harus pihak swasta yang mengerjakannya?

Ini adalah satu tantangan tersendiri bagi unsure pemerintahan kota untuk membuktikan bahwa mereka tidak sekedar memakan gaji buta. Tapi mampu memberikan pemikiran dan tindakan yang tepat dan cepat dalam menyikapi suatu masalah. Karena aset-aset wisata tersebut jika tidak diperhatikan atau terlambat dalam penanganannya, bukan saja tidak dapat memberikanpemasukan pada pendapatan daerah, tetapi akan tinggal kenangan. Seperti Pujagalana (Pusat Jajan Segala Ana/ada) yang pernah dibangun di samping situs Gua Sunyaragi yang kini hanya tinggal puing-puing yang ditumbuhi semak belukar dan sangat kumuh dipandang.